Aku bukan manusia. Aku tak punya mulut untuk berbicara, tak punya mata untuk menangis.
Aku hanyalah kursi tua, saksi bisu yang memeluk punggung-punggung yang silih berganti.
Dari aroma kopi pagi tahun 1950-an, gejolak politik yang memisahkan keluarga, pesta pernikahan di halaman rumah, hingga sunyi panjang yang membungkus masa tua seorang nenek ... semua pernah kurasakan.
Wajah-wajah itu datang dan pergi, meninggalkan berat tubuh, tawa, tangis, bahkan kehangatan yang tak pernah pudar dari serat kayuku.
Dan kini, di tangan seorang pemuda yang tak mengenal seluruh masa laluku, aku kembali memeluk kisah baru-tanpa pernah melupakan yang telah berlalu.
Di Atas Dudukanku adalah cerita lintas masa, tentang kehilangan, kenangan, dan hal-hal yang disimpan dalam diam.
All Rights Reserved