Amelia berdiri di balik meja bar, menatap uap tipis yang naik dari cangkir cappuccino terakhir yang ia buat sore itu. Hari sudah merangkak senja, dan langit di luar berubah warna menjadi oranye keemasan-warna yang selalu membuatnya merasa ada sesuatu yang berakhir, tapi sekaligus dimulai kembali.
Perjalanannya tidak menjadikannya kaya dalam hal materi, namun kaya dalam pemahaman: hidup tidak selalu berjalan lurus seperti rencana, dan itu bukan berarti kita tersesat. Terkadang, justru di jalan berliku, kita menemukan sudut-sudut sunyi yang menyimpan makna yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Amelia tidak tahu apakah ia akan kembali ke bangku kuliah atau tidak. Tapi ia tahu satu hal-ia tidak lagi melihat mimpinya sebagai tujuan tunggal, melainkan sebagai kompas yang mengarahkannya. Ia bisa menunggu, berputar, bahkan istirahat sejenak, tapi ia tidak akan membuang kompas itu.
Hidupnya kini seperti secangkir kopi yang sempurna: pahit dan manis bercampur, dengan aroma hangat yang menenangkan. Ia belajar bahwa setiap tegukan punya rasa, dan setiap rasa punya cerita.
Dan saat Amelia menutup kafe malam itu, ia tersenyum kecil.
Bukan karena semua sudah terjawab, tapi karena ia sudah berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai.
Sebab terkadang, hidup bukan tentang menemukan satu jawaban,
tetapi tentang menikmati perjalanan mencari jawabannya-seteguk demi seteguk.
All Rights Reserved