"Lucu bagaimana semesta bekerja. Kita belum sempat menamai rasa yang baru saja tumbuh, tapi takdir sudah lebih dulu memaksa kita untuk saling melupakan."
Ziva terbiasa hidup dalam sunyi. Baginya, dunia adalah tempat di mana ia harus terus berjalan meski langkahnya terasa berat. Lalu, semesta membawanya kembali pada Kavin.
Seseorang yang pernah menjadi pusat dari dunianya meski sebentar, kini berdiri sebagai orang asing yang paling jauh.
Kavin adalah teka-teki yang kehilangan kepingannya, sosok yang lebih memilih berteman dengan dinginnya jarak seolah ia terjebak dalam ruang gelap sejak sebuah kejadian traumatis merenggut impiannya. Baginya, masa lalu hanyalah puing-puing kegagalan yang tak ingin ia sentuh kembali, termasuk sosok gadis yang selalu menatapnya dengan binar yang tak sanggup ia mengerti.
Di tengah kerumitan itu, hadir pula Karin. Sosok perempuan yang tampak begitu sempurna, kontras dengan Ziva yang penuh retakan. Karin adalah cerminan dari segala hal yang Ziva impikan, ia bersinar, utuh, dan memiliki posisi yang mungkin tak bisa digantikan di sisi Kavin sekarang. Di antara mereka, ada Enzo. Seseorang yang hadir seperti sisa cahaya di ujung senja, hangat, menenangkan, namun menyadari bahwa hati yang ingin ia tuju mungkin tidak pernah benar-benar kosong.
Hujan pernah menjadi pemisah yang paling kejam, dan kini ia menjadi pengingat tentang semua yang telah hilang.
Di antara pahitnya jarak dan dinginnya sisa air mata, ada satu permohonan yang tersisa : Agar rintik yang sama datang kembali, untuk menuliskan ulang sebuah kisah yang sempat terhenti... sebelum semuanya benar-benar terhapus oleh waktu.
Karena bagaimanapun cara semesta bekerja untuk memisahkan, hati selalu berharap ia akan menemukan jalan pulang kepada pemiliknya... bahkan jika ia harus menunggu hingga hujan terakhir berhenti turun.
⚠️ ORIGINAL WORK. NO PLAGIARISM.
Dilarang keras menjiplak ide, plot, maupun karakter dalam cerita ini. Mari saling menghargai karya penulis.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang