Diantara Rintik dan Senja

Diantara Rintik dan Senja

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 14, 2025
Di Antara Rintik dan Hujan Hujan sore itu turun pelan, kayak nggak mau ganggu orang-orang yang lagi jalan. Rintikannya jatuh di jendela kafe kecil di pojok jalan. Dari dalam, aku cuma bisa ngelihatin orang-orang yang lari-lari sambil nutup kepala pake tas atau buku. Di meja ujung, ada dia-duduk santai sambil nyeruput kopi hitam. Aku nggak tahu kenapa mata ini nggak bisa berhenti nyari sosoknya tiap kali hujan. Mungkin karena hujan selalu bawa dia balik ke pikiranku, atau... mungkin karena aku diam-diam berharap, hujan kali ini bisa bikin kami ngobrol lagi. Dia ngelihat ke arahku, dan entah itu cuma kebetulan atau semesta lagi bercanda, senyumnya muncul. Senyum yang dulu bikin aku lupa cara marah. "Akhirnya hujan juga," dia bilang, suaranya nyampur sama suara rintik di luar. Aku cuma angguk, pura-pura santai. Padahal hati udah kayak jalanan-penuh genangan. "Aku suka hujan," dia lanjut, sambil ngaduk kopinya pelan. "Entah kenapa rasanya tenang aja." Aku nyengir tipis. "Tenang buat kamu, tapi buat orang yang nggak bawa payung, ribet banget." Dia ketawa kecil, dan sejujurnya aku kangen banget sama suara itu. Kangen yang udah lama aku simpan rapi, tapi selalu bocor tiap hujan datang. "Masih inget nggak," dia nyandarin badannya ke kursi, "waktu kita pulang sekolah kehujanan bareng? Sepatu basah, rambut acak-acakan, terus kita malah ketawa kayak orang gila." Aku ingat. Bahkan terlalu ingat. Waktu itu, hujan rasanya nggak sedingin sekarang. Ada dia di sampingku, dan itu udah cukup bikin semua becek dan genangan jadi seru. Aku menatap keluar jendela. Rintik hujan makin rapat, kaca mulai berembun. Dan di antara semua suara hujan, detak jantungku justru terdengar paling jelas. "Aku nggak pernah lupa," jawabku pelan. Dia diam sebentar, lalu tersenyum lagi. "Bagus. Karena aku juga nggak pernah lupa."
All Rights Reserved
#183
hujan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
Nakula

Bagaimana perasaan kalian jika memiliki pacar yang begitu sempurna. Bukan hanya dari fisiknya dan wajahnya tapi juga prestasi yang dia miliki. Rasanya itu sebuah anugerah, bukan? Itulah yang dirasakan oleh Jia Ayunara. Gadis biasa yang memiliki wajah tembam dan badan sedikit berisi. Baginya dia tidak ada cantik-cantiknya. Tentunya dia senang dan lebih tepatnya sangat senang. Hingga suatu hari, Jia baru sadar jika apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang salah. Memang seharusnya sedari awal dia tidak menerima semua itu. Apa yang mereka katakan tentang pacarnya dan primadona sekolah memang benar. Mereka sama. Mereka sederajat dan ciuman yang dia lihat sudah menjawab semuanya. Nakula Janendra Damayantra bukan hanya mengajarkannya cinta tapi juga mengajarkannya makna sakit hati. Putus adalah jalan terbaik bagi Jia dan juga awal gila yang dia lakukan. Nakula tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. [Start: 13 Desember 2025]

More details
WpActionLinkContent Guidelines