Aksara Sastra

Aksara Sastra

  • WpView
    Reads 89
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 11, 2025
Aksara ini merangkai kisah Semesta. Pada awal aku mengenal dunia. Bukan sekedar kata,namun nyata. Terkadang rumit,terkadang jahat,namun percayalah,bahwa bukan hanya kamu yang lelah. Kita sama sama berjuang disini. Menghadap dunia,mengejar akhirat. Lalu pergi dengan tenang. Ini cerita Semesta,yang aku ceritakan bersama tulisan aksara. Yang enggan aku katakan kepada beberapa insan. Namun ku adukan kepada Sastra. Ku tuliskan diksi nya dalam selembar kertas,pun di aplikasi ini. Dengan nirmala ku rangkai kisah Semesta. Ku adukan dunia pada Sastra. Agar menjadi sejarah hebat kelak aku dewasa. Terimakasih untuk kamu,untuk aku,dan untuk kita,juga kalian. Semoga tulisan ini dapat sampai dalam kalbu mu,mengobati lukamu,dan menjadi obat sebelum waktu. Silahkan di vote jika suka,follow akun ku untuk cerita selanjutnya. Dan coment kalian yang aku nantikan. Salam jauh untukk kalian insan yang hebat. Terimakasih:) ________________****************_________ asyaeraasthayasyaerrrsibadutt@gmail.com Berkabar lewat jalur aksara,,,:)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • My Wish
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • Rembulan Yang Sirna
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • Semua Memukul (✅)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • poem

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines