"Di ruang sidang yang sunyi, mata Arya menatap tajam ke arah hakim yang akan memutuskan nasibnya. Bagi publik, Arya hanyalah seorang koruptor besar yang pantas dijebloskan ke penjara. Namun, di balik pengaturan jas dan borgol besi, tersembunyi kisah masa kecil yang kelam, rumahnya digusur, orang tuanya wafat tanpa biaya berobat, dan semua itu terjadi akibat ulah koruptor yang tak pernah tersentuh hukum.
Kini, takdir mempertemukannya kembali dengan 'anak sang koruptor' itu, yang ironisnya duduk di kursi hakim. Dari uang haram sang ayah, hakim itu bisa bersekolah, kuliah hukum, hingga meraih gelar mulia sebagai pembela keadilan.
Dalam kesepakatan ini, bukan hanya pasal dan bukti yang dipertaruhkan, tetapi juga balas dendam lama, rasa bersalah, dan batas tipis antara keadilan dan kezaliman. Saat palu hakim terangkat, siapakah yang sebenarnya layak diadili, koruptor yang menjadi korban, atau hakim yang hidup dari uang hasil korupsi?"
Arstella terbangun di tubuh seorang pelayan di dunia asing yang penuh aturan dan kasta yang tak ia pahami. Setelah dipecat karena kebodohan yang tak disengaja, ia menemukan secarik poster.
Kerajaan Eldoria tengah mencari pelayan untuk dua pangeran. Pangeran Leo, sang pewaris berambut emas yang dicintai rakyat, dan Pangeran Theodore, sang anak berambut hitam yang dibenci istana karena dianggap membawa kutukan. Tanpa pilihan, Arstella melamar pekerjaan itu dan tanpa sadar melangkah ke dalam istana yang tak hanya penuh kemegahan, tapi juga rahasia kelam.
"Dewa aku hanya ingin hidup tenang... aku hanya ingin bekerja," bisik Arstella lirih, seolah sedang memohon pada langit yang bahkan tak menjawab. Namun, jawabannya datang dari bayangan. Suara Theodore terdengar rendah dan berbahaya.
"Sayangnya, kau bekerja pada iblis, Stella."
Ia melangkah mendekat, matanya gelap tak menyisakan belas kasih. "Dan dewa tak punya kuasa atas sesuatu yang sudah menjadi milikku."