The Verdict Of Fate | RUPHA [On going]
Bagi Pharita, aturan keluarganya adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Sebuah sangkar emas yang memenjarakan kebebasannya, termasuk memaksa hubungan manisnya dengan Ruka kandas di penghujung kelas dua belas SMA. Ruka, dengan jiwa bebasnya, tidak pernah bisa mengerti mengapa Pharita selalu memilih patuh dan bungkam alih-alih memberontak bersamanya. Perpisahan pun menjadi satu-satunya jalan lurus yang harus mereka tempuh. Tiga tahun berlalu tanpa komunikasi, tanpa kabar, seolah benang takdir mereka telah digunting paksa.
Pharita mengira mereka benar-benar sudah selesai. Ia menenggelamkan diri di Fakultas Hukum, belajar menjadi pelaksana aturan, sementara Ruka meniti ambisinya di Fakultas Bisnis. Berada di satu universitas yang sama selama tiga tahun tanpa pernah berpapasan membuat Pharita yakin bahwa Jakarta terlalu luas untuk mempertemukan dua hati yang sudah terlanjur patah.
Namun, sore itu semesta memilih untuk bermain kelakar. Di bawah guyuran hujan deras di selasar kampus, netra mereka kembali terkunci. Tanpa kata, hanya ada detak jantung yang berpacu liar dan ingatan yang mendadak berputar tanpa izin. Mereka masih saling mengingat wajah satu sama lain dengan teramat baik.
Ketika sebuah pesan singkat dari masa lalu kembali muncul di layar ponselnya, Pharita tahu kedamaian semu yang dibangunnya selama seribu hari telah runtuh. Ruka kembali, bukan lagi sebagai remaja lelaki yang penuh ego, melainkan seorang lelaki dewasa yang siap menuntut penjelasan atas akhir cerita mereka yang menggantung.
Di antara tuntutan hukum keluarga yang kaku dan debaran masa lalu yang belum usai, mampukah Pharita memperjuangkan kebebasannya kali ini? Ataukah pertemuan kedua ini justru akan menorehkan luka yang jauh lebih dalam daripada tiga tahun lalu?