Bagi Aldo, waktu bukanlah sahabat, melainkan pengkhianat kejam yang merenggut Ashel-istri sekaligus belahan jiwanya. Dua tahun pasca kematian Ashel, Aldo hidup dalam kehampaan, duka yang tak berujung, dan penyesalan karena tak sempat mengucapkan kata-kata terakhir. Hingga akhirnya, tubuh Aldo menyerah; ia sekarat di ruang ICU, menyusul wanita yang dicintainya.
Namun, di detik-detik terakhir hembusan napasnya, semesta memberinya pilihan ganjil. Sebuah celah waktu terbuka, menawarkan satu kesempatan mustahil: kembali ke masa lalu, namun hanya untuk dua minggu.
Aldo terbangun bukan di alam baka, melainkan di dapur rumah lamanya yang hangat. Aroma kopi, nasi goreng, dan-yang paling menyakitkan sekaligus membahagiakan-suara tawa Ashel, menyambutnya kembali. Ia kembali ke tepat 14 hari sebelum kematian sang istri.
Kini, berbekal ingatan masa depan dan rasa cinta yang meluap, Aldo bertekad menebus kelalaiannya. Ia harus mencari petunjuk-petunjuk kecil yang dulu diabaikannya-sakit kepala ringan Ashel, kelelahannya yang tak wajar-dan mengubah skenario kematian yang sudah tertulis. Di tengah kebahagiaan semu bisa memeluk istrinya lagi, Aldo sadar ia sedang berperang sendirian melawan musuh yang tak terlihat dan tak kenal ampun: Waktu.
Mampukah Aldo menyelamatkan Ashel dalam batas waktu 336 jam, ataukah takdir kematian adalah satu-satunya hal yang tak bisa diubah?
All Rights Reserved