Ciel membuka matanya perlahan. Cahaya lembut dari jendela mengisi ruangan, membuatnya harus memicingkan mata sesaat. Langit-langit yang ia tatap... bukan langit-langit manor yang ia kenal. Warnanya putih bersih, dengan hiasan ukiran klasik yang lebih sederhana dibandingkan kamar pribadinya di Phantomhive Manor. Ia berbaring di atas ranjang besar dengan sprei satin yang baunya wangi lavender, aroma yang entah kenapa mengusik sesuatu di ingatannya.
Kepalanya terasa ringan, tapi anehnya juga... tenang. Ia mengangkat tubuh, bersandar pada kepala ranjang, matanya bergerak menyapu seluruh ruangan. Lemari kayu mengilap, meja rias dengan vas bunga segar, dan tirai tipis yang bergerak pelan tertiup angin dari jendela terbuka.
"Aku... di mana?" gumamnya pelan.
Sebelum sempat ia bangkit, suara ketukan lembut terdengar dari pintu. Tidak menunggu jawaban, pintu itu terbuka perlahan, dan di sanalah ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku.
Seorang wanita masuk-rambut pirangnya tergerai anggun, matanya biru teduh, langkahnya ringan dan penuh keanggunan. Senyum lembut menghiasi wajahnya. Itu bukan ilusi. Itu bukan mimpi.
"Ibu..." suara Ciel nyaris pecah, begitu lirih hingga hampir tak terdengar.
Rachel Phantomhive menatapnya sejenak, senyumnya semakin hangat. "Ternyata kau sudah bangun," ujarnya, nada suaranya seperti pelukan yang dulu selalu menenangkan Ciel kecil. "Bersiap-siaplah dulu, sebelum kita dibawa makan."
Ia berkata seolah semua ini normal, lalu tanpa menunggu jawaban, menutup pintu dengan tenang.
Ciel masih terdiam, pandangannya menempel di pintu yang baru saja tertutup. Jantungnya berdetak cepat, pikirannya berputar-putar mencoba mencari penjelasan. Tadi... itu benar-benar ibunya. Tapi itu tidak mungkin. Ayah dan ibunya sudah...
Kepalanya berdenyut, perasaan bingung dan curiga bercampur jadi satu. Ia menoleh ke sekitar, mencari sesuatu yang bisa menjelaskan situasi ini. Tapi yang ada hanya kesunyian.
Lalu, suara lembut terdengar-"meong."
All Rights Reserved