Sejak kecil, Jasendra diajarkan untuk selalu menjadi penopang, kakak yang mengalah dan mengutamakan keselamatan adiknya. Prinsip itu ia pegang teguh, hingga sebuah peristiwa tragis memaksa Jasendra melempar tubuhnya demi menyelamatkan nyawa sang adik dari hantaman maut. Jasendra selamat, tetapi harga yang harus dibayar teramat mahal. Masa depannya hancur berkeping-keping. Dengan kaki yang tak lagi sempurna, mimpinya terhenti seketika. Rumah yang dulu hangat perlahan berubah menjadi tempat paling asing, tempat di mana setiap sudutnya penuh dengan pembandingan dan tatapan kecewa. Sebab bagi Jasendra, kehilangan tubuh yang utuh dan cita-cita bukanlah hal yang paling meremukkan dada. Yang paling menyakitkan adalah menyaksikan orang-orang yang dulu ia lindungi, perlahan berhenti percaya bahwa ia masih memiliki masa depan.
Mehr Details