The Beautiful Swamp Dweller

The Beautiful Swamp Dweller

Season 4 of 5
  • WpView
    Leituras 103
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Capítulos 30
WpMetadataReadConcluída ter, set 2, 2025
#Reneverse Sosok penunggu rawa di sebuah desa sudah banyak meresahkan masyarakat desa. Banyak yang jadi korban di rawa itu, terutama laki-laki, hingga banyak warga sekitar yang takut untuk pergi ke sana, namun beberapa orang juga tidak percaya akan hal itu dan mencoba untuk datang sendiri, bahkan banyak juga orang-orang dari luar desa juga yang datang hanya ingin membuktikan hal itu dan berakhir naas untuk mereka. Penunggu rawa itu pun sampai lelah dengan kelakuan manusia-manusia itu. Namun, berbeda dengan seorang laki-laki kota yang baru saja pindah ke desa itu, kepolosan dan ketidaktahuan ia tentang apapun prihal penghuni rawa itu malah membuat dia memasuki pengalaman yang baru dan tidak terduga.
Todos os Direitos Reservados
#302
iblis
WpChevronRight
Séries

Reneverse

  • Me in The Multiverse
    Volume 1
    11 capítulos
  • Doppelgänger
    Volume 2
    29 capítulos
  • When The Worlds End, We Begin!
    Volume 3
    28 capítulos
  • Volume 4
    30 capítulos
  • Four Hunters
    Volume 5
    49 capítulos
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • The Villain Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo