Kabut malam menelan hutan, menyembunyikan jejak darah yang mengalir di tanah basah. Bulan purnama pucat menyorot sosok berotot berbalut jubah, langkahnya berat namun pasti. Gigi runcingnya berkilat, siap bukan hanya untuk menghisap darah, tapi juga mengoyak daging hingga tulang pun tak bersisa. Dia adalah salah satu para monster yang suka menghabisi nyawa.
Di antara kabut, suara napas terputus-putus terdengar, korban terakhirnya merangkak mundur, matanya melebar ketakutan.
"A-aku... kumohon... jangan-" suaranya pecah.
Monster itu menunduk, membiarkan darah menetes dari giginya. "Kumohon? Kau pikir kata itu bisa menyelamatkanmu?" Napasnya panas, bercampur aroma besi segar.
"Kau... bukan manusia..." lirih korban, suaranya hampir tak terdengar.
Senyum miring terukir di wajahnya. "Manusia? Tidak... aku jauh lebih jujur daripada mereka. Aku lapar, dan kau kebetulan ada di sini." Dengan satu gerakan, ia melempar tubuh itu ke tanah, membiarkan jeritan tertelan oleh kabut.
Menjilat darah yang mengalir di ujung jarinya, ia mendongak ke langit. "Hiduplah sedikit lebih lama... aku ingin menikmati setiap jeritanmu," gumamnya pelan, seolah membicarakan hal sepele.
Langkahnya kembali terdengar, semakin menjauh dari korban yang kini hanya tersisa tulang belulang. Tanpa menyadari di ujung hutan, di balik kabut tebal, seorang pemburu menunggu dan mengintainya dengan sabar sambil membidikkan panah beracun miliknya.
Bagaimana rasanya terbangun saat cerita sudah TAMAT dan peranmu hanyalah menunggu mati?
Kenra, pemuda 20 tahun dengan kehidupan monoton tanpa tujuan, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Kenra Farza Alberto-antagonis utama yang sudah kalah total. Sang protagonis sudah menang, pesta sudah usai, dan sekarang hanya tersisa siksaan sel gelap untuknya.
Terjebak dalam dosa yang tidak pernah ia lakukan, ia harus melawan takdir yang jelas-jelas tertulis MATI. Bisakah ia menulis ulang epilognya sendiri di dunia yang sudah tidak lagi membutuhkan kehadirannya?