Sebelum Nama Itu Hilang [on going]
10 bab Bersambung "Kalo kalian pergi, Ndra bakalan ikut pergi juga," ujar Kalandra dengan suara lirih, nyaris tenggelam oleh angin sore.
"Ngomong apasih," sahut Druva sambil mengernyit, merasa kalimat yang diucapkan adiknya terlalu sendu. "Lu tuh kebanyakan mikir aneh-aneh."
Kalandra menunduk, jemarinya saling memainkan ujung jaket.
"Bukan mikir aneh-aneh..." gumamnya pelan. "Cuma... Ndra takut aja kalo suatu hari nanti sendirian."
Hanwara yang sedari tadi diam ikut menoleh. "Lu gak bakal sendirian, tolol. Kita berenam masih ada."
"Iya," timpal Jiro, "selama ada kita, lu aman."
Yuraya yang sejak tadi hanya bersandar di pohon, akhirnya angkat suara. Tatapannya tertuju lurus pada Kalandra.
"Lu itu terlalu baik buat mikir sejauh itu," ucapnya datar.
"Tapi satu hal... selama gue masih hidup, gue gak bakal ninggalin kalian."
Ucapannya singkat, tanpa nada berlebihan, tapi justru membuat suasana mendadak hening.
Sagara tersenyum tipis, lalu ikut menepuk kepala Kalandra ringan.
"Janji. Kita gak ke mana-mana."
Kalandra mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu.
"Janji ya..." ucapnya pelan.
"Janji," jawab mereka hampir bersamaan.
Kalandra tersenyum kecil.
Tapi entah kenapa, di dadanya, rasa takut itu tetap belum sepenuhnya hilang.