Taruhan Si Elang 🦅

Taruhan Si Elang 🦅

  • WpView
    Reads 513
  • WpVote
    Votes 65
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadMatureComplete Fri, May 22, 2026
Siapa yang ingin wanita seperti Ruby? Yang liar, tak mau diatur, sesuka hati dalam bertindak tanpa memikirkan apa kata orang lain? Roy. Kehadiran Ruby merusak kehidupan Roy yang tertata rapi dan terencana. Pria berusia 32 tahun itu telah sukses membangun perusahaan teknologi, yakni Android Corporation. Sebagai penemu robot humanoid yang membuat dunia selangkah lebih maju, tentu reputasinya begitu terhormat. Begitu rapuh sehingga perlu dijaga. Sedangkan Ruby baru saja menginjak 20 tahun dan bahkan belum legal untuk meminum minuman yang ia minum tiap malam perayaan. Ia hanyalah wanita yang cinta kesenangan. Cinta dengan dopamin yang diberi oleh klub malam. Reputasi Roy mulai terombang-ambing akibat bocor foto dirinya dan Ruby sedang menghadiri sebuah acara. Publik tak setuju akan hubungan mereka, mengatakan bahwa Ruby tak pantas untuk seseorang yang sukses seperti Roy. Ruby hanyalah nepo-baby yang reputasinya buruk. Berjiwa liar, tak mau diatur, dan sesuka hati dalam bertindak. Hanya sebatas tiga frasa tersebut reputasi Ruby. Roy tak menghiraukannya. Roy tahu Ruby bukan hanya sebatas itu. Meski begitu, sulit untuk meluluhkan hati Ruby. Ruby selalu menganggap gampang kehadiran Roy, berpikir bahwa pria itu hanyalah pria sekali lewat. "Terlalu tua," kata Ruby. "Selera gue yang seumuran." Oh, Ruby, apakah laki-laki yang seumuran denganmu akan sebanding dengan Roy? Ada harta karun di depanmu, mustahil untuk tidak kamu buka. Iya, kan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Red Horizon
  • Beneath Your Sins
  • Spark
  • Regalia Crown
  • Rewrite My Heart 3
  • Ethereal
  • Jasper
  • Learning to Be Loved [END]
  • Crash Into Me
  • THE CHAMPION

Mereka tidak pernah benar-benar bertemu. Hingga takdir mempertemukan mereka di bawah logo kuda jingkrak, di mana garis antara kemenangan dan kehancuran begitu tipis-mereka mulai melihat satu sama lain dengan cara yang berbeda. Dibayangi oleh masa lalu, di tengah sorotan media, tekanan tim, dan lintasan yang menuntut lebih dari sekadar kecepatan, keduanya terjebak dalam permainan yang lebih berbahaya dari balapan mana pun-sebuah permainan antara kehilangan, ambisi, dan perasaan yang tak seharusnya ada. [Spoiler] "I made a playlist," ucapnya singkat, suaranya nyaris berbisik. "Thought you might like this one." Evie ragu sejenak, tapi jari-jarinya mengambil earphone itu dengan hati-hati. Satu sisi ia pasangkan di telinganya, sisi lain sudah tersemat di telinga Theo. Kabel putih itu jadi satu-satunya benang yang menghubungkan mereka sekarang. Nada awal dari lagu pertama mulai terdengar. Lembut, namun menghantam. Gitar pertama berdenting seperti udara malam yang masuk lewat jendela, menggores pelan ke tulang. Drum-nya pelan, tapi mantap-seperti detak jantung yang tak bisa dipadamkan. Evie tak siap. Dadanya mencelos saat suara itu masuk. Every breath you take... Ia mengedip cepat, menahan sesuatu di balik tenggorokannya. Matanya tetap tertuju ke jendela, tapi ia tak lagi melihat apa pun di luar sana. Yang ada hanyalah suara, dan Theo di sampingnya-begitu dekat, panas tubuhnya terasa sampai ke tulang rusuk Evie. Seketika, ia sadar betapa ia merindukan kedekatan ini. Rindu akan diamnya Theo. Rindu aroma musk lembut yang entah kenapa selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Theo memejamkan mata, kepalanya sedikit menunduk. Ia tak bicara. Tak bergerak. Tapi keberadaannya... menciptakan kehadiran yang tak bisa diabaikan. Every move you make Every step you take I'll be watching you... Evie menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu apakah ini permintaan maaf atau sekadar bentuk penghiburan. Tapi yang jelas, ia tak sanggup menolaknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines