My namja

My namja

  • WpView
    Reads 165
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 28, 2019
Prolog Bisa-bisanya aku merasakan jantung yang berdebar-debar, dan sesak?.. Oh, apa aku harus segera ke dokter? Ya ampun, aku rasa aku sehat-sehat saja Shin Dong Woo, ya dia. Hanya di dekatnya aku berdebar-debar Lalu apa yang harus aku lakukan Obat? Adakah obat untuk menghilangkan rasa ini? Ventilasi yang terpasang pun percuma. Aku tetap sesak didekatnya Etto, inikah jatuh cinta? (B1A4 bukan punya saya, saya cuma punya ceritanya doang hiks T_T Yang suka pairing Jinyoung X CNU ayo kita melestarikannya yuk! dan untuk update, maafkan ga bisa cepet2 :"( )
All Rights Reserved
#101
b1a4
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Red Horizon
  • Friend(love)zone
  • Love Phobia (Park Woo Jin) END
  • Appa!! Aku merindukan mu!!
  • Why Does It Have To Be You? [END]
  • The story of sin and ken
  • Who's Your Lover? [Complete]
  • Doctor! Doctor! | HaoBin [END]
  • Lensa Argan✔[END]
  • Soft Slave [END]

Mereka tidak pernah benar-benar bertemu. Hingga takdir mempertemukan mereka di bawah logo kuda jingkrak, di mana garis antara kemenangan dan kehancuran begitu tipis-mereka mulai melihat satu sama lain dengan cara yang berbeda. Dibayangi oleh masa lalu, di tengah sorotan media, tekanan tim, dan lintasan yang menuntut lebih dari sekadar kecepatan, keduanya terjebak dalam permainan yang lebih berbahaya dari balapan mana pun-sebuah permainan antara kehilangan, ambisi, dan perasaan yang tak seharusnya ada. [Spoiler] "I made a playlist," ucapnya singkat, suaranya nyaris berbisik. "Thought you might like this one." Evie ragu sejenak, tapi jari-jarinya mengambil earphone itu dengan hati-hati. Satu sisi ia pasangkan di telinganya, sisi lain sudah tersemat di telinga Theo. Kabel putih itu jadi satu-satunya benang yang menghubungkan mereka sekarang. Nada awal dari lagu pertama mulai terdengar. Lembut, namun menghantam. Gitar pertama berdenting seperti udara malam yang masuk lewat jendela, menggores pelan ke tulang. Drum-nya pelan, tapi mantap-seperti detak jantung yang tak bisa dipadamkan. Evie tak siap. Dadanya mencelos saat suara itu masuk. Every breath you take... Ia mengedip cepat, menahan sesuatu di balik tenggorokannya. Matanya tetap tertuju ke jendela, tapi ia tak lagi melihat apa pun di luar sana. Yang ada hanyalah suara, dan Theo di sampingnya-begitu dekat, panas tubuhnya terasa sampai ke tulang rusuk Evie. Seketika, ia sadar betapa ia merindukan kedekatan ini. Rindu akan diamnya Theo. Rindu aroma musk lembut yang entah kenapa selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Theo memejamkan mata, kepalanya sedikit menunduk. Ia tak bicara. Tak bergerak. Tapi keberadaannya... menciptakan kehadiran yang tak bisa diabaikan. Every move you make Every step you take I'll be watching you... Evie menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu apakah ini permintaan maaf atau sekadar bentuk penghiburan. Tapi yang jelas, ia tak sanggup menolaknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines