Jika Waktu Mengizinkan

Jika Waktu Mengizinkan

  • WpView
    Reads 22,005
  • WpVote
    Votes 1,446
  • WpPart
    Parts 52
WpMetadataReadMatureComplete Wed, Nov 5, 2025
"Ada cinta yang tidak pernah mati, hanya terkubur oleh waktu." Harry Aditya Pranata dan Aza Nadira Prameswari pernah berjalan berdampingan di masa muda mereka. Bukan pacar, bukan sekadar teman-hubungan mereka adalah sesuatu yang selalu samar, indah tapi tak pernah terucap. Hingga sebuah perpisahan membuat keduanya menjauh tanpa sempat saling mengakui. Dua belas tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di usia tiga puluhan. Kini mereka bukan lagi anak muda yang bisa gegabah, melainkan dua orang dewasa dengan luka, pilihan, dan hidup masing-masing. Senyum yang dulu pernah menggetarkan hati kini kembali hadir. Namun, di balik senyum itu ada pertanyaan yang sama-sama mereka takutkan: Apakah cinta lama pantas diperjuangkan kembali, atau hanya tinggal kenangan yang seharusnya dibiarkan tetap terkubur? Sebuah kisah tentang cinta yang datang terlambat, tentang kesempatan kedua yang tak selalu mudah, dan tentang keberanian memilih-antara masa lalu yang indah atau masa kini yang nyata.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DOSEN GALAK DAN MAHASISWI ABSRUD
  • I LOVE YOU! PRIA MATANG
  • Marked by Harry
  • My First Love
  • Unconditionally
  • SATU ATAP (HARQEEL)
  • SALOKA
  • CINTA DI DUA BENUA
  •  DI BAWAH LANGIT YANG SAMA
  • Love Dominion

Setiap pagi aku datang lebih cepat dari jadwal, memastikan spidol tersusun rapi, papan bersih, meja tidak ada coretan aneh, dan kelas sunyi. Tidak ada suara, tidak ada gangguan, tidak ada hal yang membuat alur pikiranku terpotong. Tapi hari ini ada firasat buruk menggelayuti udara. Biasanya mahasiswa hanya takut padaku dan itu bagus. Tapi entah kenapa, beberapa dari mereka tampak gelisah dari tadi. Saling bisik, saling melirik ke arah pintu. Seolah mereka menunggu sesuatu. Atau seseorang. Aku menarik napas, fokus menulis rumus di papan. Dan kemudian BRUK! Pintu terbuka keras. Aku menoleh. Dan di sana terlihat seorang mahasiswi dengan kemeja warna pink, kopi di tangan, dan muka tanpa rasa bersalah. "apa itu?" tanyaku dalam hati. Warna. Kopi. Di kelas Matematik Tingkat Lanjut. Hari ini sudah resmi berantakan. - HARVI RAFA ALFAREZ Aku tahu aku terlambat. Serius deh, mana ada orang normal yang berlari sambil mengejar ayam pukul tujuh pagi? Tapi mau bagaimana lagi? Kalau aku biarkan ayam itu kabur, tetangga bakal marah. Dan kalau tetangga marah depan rumah, hidupku bisa tamat sebelum UAS. Makanya, meski napas ngos-ngosan dan kopi hampir tumpah, aku tetap melangkah masuk kelas dengan penuh percaya diri. Begitu pintu kubuka Suasana langsung sunyi. Sunyi banget. Sampai aku bisa dengar suara degupan jantungku sendiri atau mungkin itu suara detik-detik kematian sosialku, Lalu aku melihat dia. Dosen galak terkenal. kemeja putih dengan jas hitam. Tatapan? Kayak penghapus yang jatuh dari lantai tiga: tajam dan mematikan. Oke, oke mungkin kemejaku memang terlalu ngejreng. Tapi setidaknya aku datang, kan? Itu sudah prestasi besar buat hari kacau seperti ini. Aku tersenyum kecil. Semoga dia tidak terlalu galak. Lalu dia menghela napas panjang, panjang sekali, seperti baru kehilangan sisa kesabarannya. Oke. Dia galak. Banget. Tapi entah kenapa, aku merasa hari ini bakal menarik. - AZA ANINDYA HALIM

More details
WpActionLinkContent Guidelines