Pukul 17.30

Pukul 17.30

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 19, 2025
Pukul 17.30. Menurut sebagian orang,mungkin itu hanyalah angka biasa, angka yang menunjukkan bahwa Maghrib sudah menjelang atau bahkan mencerminkan jalan raya yang ramai oleh karyawan. Tapi bagiku, 17.30 adalah jam pulang. apapun hal yang sedang kulakukan, jika waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, aku akan pulang. Walau teman teman basket ku selalu mendesakku agar berlatih untuk lebih lama lagi, tapi aku tidak bisa. Sudah waktunya pulang, kataku. Karena setiap aku keluar dari gerbang sekolah, membawa tas dipundak sambil menggowes sepeda, hanya akan ada satu orang yang menungguku untuk pulang. Sambil duduk di depan teras rumah, menyender pada kursi kayu dengan senyum di wajahnya yang setia menanti diriku untuk pulang. Mama. Satu satunya orang yang menyambut kepulangan ku. Kadang dengan segelas teh manis hangat, kadang susu, kadang dengan gorengan biasa seperti pisang goreng dan gehu yang entah kenapa terasa lebih enak. Satu satunya orang yang kubiarkan memperlakukanku seperti diriku ini bukan seorang remaja berusia 17 tahun. Satu satunya orang yang menjadi cahaya dalam hidupku. Tetapi Tetapi... Sayangnya, semua orang juga tau, tidak ada cahaya yang abadi di dunia ini. Bahkan matahari pun suatu hari nanti akan kehilangan sinarnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • GUMI [Completed]
  • El and Jerganio (End)
  • 𝐇𝐈𝐒 𝐒𝐖𝐄𝐄𝐓𝐒𝐔𝐆𝐀𝐑
  • President's Wife
  • The Cold Ceo's Hidden Heir
  • MORSE: POSSESSIVE EX
  • Skyline Marriage
  • Kamu Hanya Milikku
  • Heyu : Second Gear

Gumi selalu dipaksa untuk mengalah pada adik, dan mengerti keadaan kakak. Pada suatu malam, Gumi yang biasanya mau mengalah pada adik dengan mudah, tiba-tiba tidak mau berbagi sampai adiknya menangis dan membuat Mama marah. Tidak hanya Mama, Papa juga marah akan sikap Gumi. Setelah mendapatkan hukuman dari Papa, Gumi jatuh terlelap karena sudah lelah menangis. Namun apa yang dia dapatkan ketika terbangun? Gumi bertransmigrasi ke tubuhnya satu tahun yang lalu. Gumi bertekad untuk tidak mengemis perhatian dari kedua orang tuanya. Gumi akan berusaha menjadi anak yang mandiri dan memutuskan untuk menghindari kedua orang tuanya. ⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆ 𝐍𝐎𝐓𝐄: 𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐋𝐄𝐍𝐆𝐊𝐀𝐏!

More details
WpActionLinkContent Guidelines