Pukul 17.30.
Menurut sebagian orang,mungkin itu hanyalah angka biasa, angka yang menunjukkan bahwa Maghrib sudah menjelang atau bahkan mencerminkan jalan raya yang ramai oleh karyawan. Tapi bagiku, 17.30 adalah jam pulang. apapun hal yang sedang kulakukan, jika waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, aku akan pulang. Walau teman teman basket ku selalu mendesakku agar berlatih untuk lebih lama lagi, tapi aku tidak bisa. Sudah waktunya pulang, kataku.
Karena setiap aku keluar dari gerbang sekolah, membawa tas dipundak sambil menggowes sepeda, hanya akan ada satu orang yang menungguku untuk pulang. Sambil duduk di depan teras rumah, menyender pada kursi kayu dengan senyum di wajahnya yang setia menanti diriku untuk pulang.
Mama.
Satu satunya orang yang menyambut kepulangan ku. Kadang dengan segelas teh manis hangat, kadang susu, kadang dengan gorengan biasa seperti pisang goreng dan gehu yang entah kenapa terasa lebih enak. Satu satunya orang yang kubiarkan memperlakukanku seperti diriku ini bukan seorang remaja berusia 17 tahun. Satu satunya orang yang menjadi cahaya dalam hidupku.
Tetapi
Tetapi... Sayangnya, semua orang juga tau, tidak ada cahaya yang abadi di dunia ini.
Bahkan matahari pun suatu hari nanti akan kehilangan sinarnya.
Todos los derechos reservados