Di Bandung, ada satu waktu yang selalu terasa berbeda. Bukan pagi, bukan malam. Pukul 17.40-saat senja menahan napasnya. Kala datang ke kota ini untuk menepi, membawa naskah yang belum selesai dan masa lalu yang belum benar-benar pergi. Ia tidak mencari apa pun, apalagi seseorang. Arka adalah lelaki yang hidupnya sudah tertata. Kaya, tenang, dan terbiasa menunggu. Ia tidak percaya pada pertemuan yang kebetulan-sampai suatu sore membuatnya duduk di bangku yang sama, di waktu yang sama, dengan orang yang tidak pernah ia rencanakan. Mereka bertemu tanpa bertukar nomor. Berbincang tanpa janji. Dan pulang dengan perasaan yang pelan-pelan tinggal. Di antara kopi pahit, hujan Bandung, dan senja yang selalu datang tepat waktu, Bandung, 17.40 bercerita tentang dua orang dewasa yang belajar bahwa cinta tidak selalu hadir dengan gegap gempita-kadang ia datang diam-diam, lalu menetap. Karena tidak semua pertemuan ingin cepat. Sebagian hanya ingin jujur.
Karagdagang detalye