
Menyedihkan. Menyakitkan. Aku sangatlah payah, lebih dari sekadar payah. Dunia seakan berhenti berputar. Waktu seolah menatapku dingin, menyuruhku berhenti bernapas, berhenti bermimpi, berhenti melukis. Hal yang kucintai, hal yang menjadi satu-satunya alasan aku bertahan kini berubah menjadi sebuah kutukan, penuh kesialan, penuh luka. Namun tanganku tetap gemetar, tetap mengoleskan jari pada luka yang menganga, membiarkan darahku merembes, lalu kuusap pada dinding yang dingin, putih, tak berdosa. Dinding itu kini berubah menjadi kanvas penderitaanku. Setiap goresan merah adalah seni bagiku yang menginginkan sebuah gambaran. Aku ingin berhenti. Tapi tubuhku tak mendengarkan. Tanganku terus menari dalam kegilaan, menulis penderitaan dengan tinta merah yang keluar dari nadiku sendiri. Hatiku sungguh tersayat, bagai ribuan pisau menusuk sekaligus ke lubuk terdalam jiwaku. Sakitnya tak bisa diterjemahkan oleh air mata, karena air mata telah lama mati di mataku. Yang mampu turun hanyalah darahku, darah yang menjadi saksi bisu dari hancurnya aku. Lukisan adalah gambar hidup.Todos los derechos reservados
1 parte