ISTANA YANG MENGHILANG

ISTANA YANG MENGHILANG

  • WpView
    Reads 1,265
  • WpVote
    Votes 114
  • WpPart
    Parts 105
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Sep 15, 2025
Jia Li hidup dalam kesempurnaan-dikelilingi keluarga, sahabat, kekayaan, dan kejayaan karier yang membuatnya seakan tak kekurangan apa pun. Namun di balik gemerlap itu, hatinya mulai merasakan kekosongan yang tak bisa dijelaskan. Sebuah liburan ke istana tua di pedesaan terpencil ia anggap sebagai jalan keluar untuk melepaskan penat. Namun siapa sangka, istana itu justru menyeretnya ke dunia lain. Dunia asing yang penuh aturan kekaisaran, hirarki kasta, dan intrik yang membelenggu kebebasan. Di tengah keterasingan dan perjuangan hidup yang baru, Jia Li harus memilih: menemukan jalan kembali atau menerima takdir barunya. Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin samar mana yang sebenarnya ia inginkan-kembali pada kenyataan, atau bertahan di dunia yang perlahan mengubah dirinya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines