Eudaimonia

Eudaimonia

  • WpView
    LECTURES 413
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Chapitres 2
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., août 23, 2025
Di hari pementasan Esha di gedung besar musisi nasional, permainan pianisnya berhasil menjerat sesosok pemuda yang telah lama bersahabat bersama cat dan canvas. Tidak pernah terbayangkan jika alunan not yang seirama dan nada yang ramah di pendengaran itu akhirnya mencuri perhatian Kavi Sadewa Adiwangsa. Si pelukis di jalanan. Dan ... Pertemuan yang tidak terbayangkan oleh gadis bersikap anggun, menawan, dan elegan itu bisa jatuh ke dalam aura karismatik pria yang lentur tangannya ketika sedang mencoret canvas putih kosong di pinggir jalan berhasil menarik perhatian si gadis tentang perpaduan warna-warni yang jika ditelaah mendatangkan banyak makna. Esha Janaka Adhipramana. Si pianis muda yang terkenal. *** ©® Don't copy right Enjoying and happy reading
Tous Droits Réservés
#339
seniman
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu