We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
TEMAN KANDUNG

TEMAN KANDUNG

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 24, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Hidup sering kali terasa seperti perjalanan panjang tanpa peta, penuh kelok yang tak terduga. Di setiap persimpangan, kita bisa saja berjalan sendiri, rapuh menahan beban langkah. Namun, di antara riuh dunia yang kadang begitu asing, ada pertemuan yang meluruhkan sepi ialah sahabat. Mereka adalah jeda di tengah letih, pelangi setelah hujan, sekaligus cermin yang membuat kita mengenali diri sendiri lebih jujur. Sahabat sejati tak pernah lahir dari kebetulan semata. Mereka hadir seperti takdir yang diselipkan semesta, untuk menyertai tawa yang pecah tanpa alasan, juga air mata yang jatuh tanpa penjelasan. Bersama merekalah perjalanan menjadi lebih berarti, sebab langkah yang ditempuh berdua selalu terasa lebih ringan daripada seribu langkah sendirian. Di dunia yang penuh persaingan dan hiruk pikuk, persahabatan adalah rumah, tempat segala luka bisa dibiarkan sembuh dengan diam, dan segala mimpi bisa terbang lebih tinggi tanpa takut jatuh. Dan kisah ini, adalah tentang mereka. Tentang sahabat yang dipertemukan oleh waktu, disatukan oleh perjalanan, dan diikat oleh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar janji: kebersamaan.
All Rights Reserved
#4
novelsastra
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • Tsundere Maniak Susu
  • The Time
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • I'm Not Just a Figuran

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines