CAKE Our Little Secret

CAKE Our Little Secret

  • WpView
    Reads 258
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 28, 2026
Keenan tiba-tiba mendekat, menundukkan wajahnya hingga jarak di antara mereka nyaris hilang. Deru napas keduanya bercampur, menciptakan ketegangan yang begitu nyata. "Tapi kalo suatu saat rahasia ini kebongkar... apa lo siap nanggung akibatnya?" suaranya terdengar rendah, seperti bisikan. Alih-alih merasa takut, Cassandra dengan berani membalas tatapan tajamnya. Dan tanpa aba-aba, ia memiringkan wajahnya sedikit kemudian mengecup singkat bibir Keenan, membuat dunia seakan berhenti berputar sesaat. "Kalo sampe saat itu tiba, kita hadapin sama-sama. Permainan ini ngga akan seru kalo gue mainin sendirian" ucapnya lembut, diikuti senyum menggoda yang terukir di wajah cantiknya. Lalu pergi meninggalkan Keenan, yang masih terpaku di tempat. Penasaran sama kelanjutan ceritanya? Jangan ragu buat tambahin ke perpustakaan ya! 📖✨ Vote dan komen dari kalian sangat berarti buat aku. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ini 🧡 Publish : 22 Agustus 2025 Finish : Aku izin lanjutin cerita ini pelan-pelan ya, readers ☺️
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines