Alena Seraphine Lancaster, gadis blasteran Belanda dengan tinggi 178 cm, memiliki pesona yang sulit diabaikan. Wajahnya anggun, mata cokelat yang hangat berpadu dengan senyum lucu yang sering mencairkan suasana. Rambutnya bergelombang lembut, membuatnya terlihat seperti potret klasik yang hidup di tengah hiruk pikuk remaja.
Sejak SMP, nama Alena sudah sering disebut-sebut-bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena sosoknya yang hangat, walau terkadang penuh gengsi. Kehidupannya dikelilingi teman-teman dari keluarga terpandang, canda gurau yang sering disorot guru, hingga cerita masa SMP yang selalu melekat: kebersamaannya dengan Theo, sahabat yang tak pernah benar-benar dekat, namun juga tak bisa dibilang jauh.
Namun waktu membawa Alena ke babak baru. Memasuki SMA, tepatnya di awal kelas 11 di sekolah lamanya, ia bertemu dengan sosok yang berbeda dari sebelumnya. Ezra Dominic Harrington-adik kelas dengan tatapan dingin, sikap cuek, namun secara diam-diam mencuri perhatiannya. Pertemuan itu menandai awal kisah yang sulit ditebak, penuh gengsi, jarak, dan tanda tanya yang menggantung.
Di balik tawa, ada tangis yang tak selalu terlihat. Di balik keanggunan, ada kerinduan yang ia sembunyikan. Dan di balik setiap pertemuan, ada perpisahan yang menunggu untuk dituliskan.
---
• Diangkat dari kisah nyata aku sendiri tapi banyak yang emang karangan kok guys
• Maaf apabila ada kesamaan nama tokoh ya
Prolog
"Gila, sadis banget si Xavier."
"Aluna juga tolol banget-udah tahu Canva nggak suka sama dia, masih juga ngejar-ngejar."
Zena menatap layar ponselnya dengan ekspresi campur aduk: marah, jijik, dan frustrasi.
Baru saja dia menamatkan novel Forever Mine, dan akhir ceritanya benar-benar bikin naik darah.
"Udah gitu, Aluna matinya tragis banget. Disiksa di ruang rahasia Xavier cuma karena dia berani bully Sofia? Gila, nih cowok psikopat."
Zena mematikan layar. Melempar ponsel ke kasur.
"Udah ah, mending gue tidur aja. Capek."
Tapi dia tak tahu, malam itu bukan malam biasa.
Saat membuka mata, semuanya berubah.
Lampu putih. Aroma antiseptik. Dingin.
Seseorang menggenggam tangannya.
"Aluna sayang... akhirnya kamu sadar juga," ucap seorang wanita lembut, penuh haru.
Zena terdiam. Matanya mengerjap bingung.
"Maaf, Tante... siapa Aluna? Nama saya Zena."
Wajah wanita itu langsung pucat.
"Luna, kamu jangan bercanda. Mama panggil dokter dulu ya, sayang..."
Zena mematung. Jantungnya mulai berpacu tak karuan.
Luna?
Aluna... Atmajaya?
"Nggak... ini nggak mungkin."
Beberapa jam kemudian, dua cewek datang menjenguknya.
"Luna, gue yakin ini ulah Xavier!"
"Lo baru aja nyiram bakso ke Sofia kemarin, kan?" ucap Rebecca panik.
Zena hanya bisa diam. Matanya kosong.
"Sial... gue masuk ke dunia Forever Mine."
"Dan lebih parahnya... gue jadi Aluna. Cewek antagonis yang bakal mati mengenaskan di tangan Xavier ."
Tapi cerita tak berhenti di sana.
Karena dalam dunia ini, satu perubahan kecil bisa mengubah takdir.
Dan siapa sangka...
Alih-alih ingin membunuh, Xavier justru mulai terobsesi...
Pada Aluna yang kini bukan lagi Aluna duluh.