"Pagar Hati: Puisi-puisi Terkunci"
Di balik dinding emas yang menjulang, di antara tumpukan logam berkilau, tersembunyi sebuah kuburan bernama "hati". Buku ini adalah pengakuan lirik tentang mereka yang membangun pagar dari materi-tebal, kokoh, dan mengkilap-namun justru memenjarakan diri dalam kehampaan.
Pagar Hati menghimpun rangkaian sajak yang menggugat ironi kehidupan modern: bagaimana manusia rela mengorbankan kehangatan keluarga, keikhlasan sahabat, dan keindahan persahabatan demi mengumpulkan "simbol kebahagiaan" yang ternyata mematikan. Setiap baris puisi menjadi kunci yang membuka pintu ruang-ruang terkunci di dalam jiwa-ruang di mana tawa anak memudar ditelan kesibukan, di mana ibu menatap foto dengan senyum pahit, di mana sahabat hanya menjadi nama di daftar kontak yang tak pernah tersentuh.
Melalui diksi yang tajam dan metafora yang menyayat, buku ini mengajak pembaca merasakan:
Kesepian di tengah keramaian: Rumah megah yang terasa seperti sangkar, pesta mewah yang hampa dari kehangatan.
Pengorbanan yang sia-sia: Waktu, cinta, dan kenangan yang dibakar untuk mengejar angka-angka di rekening.
Ironi tragis: Manusia menjadi "tawanan" dalam istana yang dibangun sendiri, lupa bahwa pagar tertinggi yang mereka dirikan sebenarnya adalah dinding di antara mereka dan orang-orang yang mereka cintai.
"Pagar Hati" bukan sekadar kumpulan puisi-ini adalah cermin yang menamparkan wajah kita yang terlalu lama menunduk pada uang, hingga lupa mengangkat kepala untuk memandang mata orang tersayang. Sebuah pengingat bahwa harga diri yang sejati tak terukur dari saldo bank, tapi dari keberanian kita untuk merobohkan pagar hati dan membiarkan cinta masuk kembali.
All Rights Reserved