Tinggal Satu Atap
"Eh suara bayi darimana tuh?" gumam seorang mahasiswi semester akhir yang sedang pusing-pusingnya mengerjakan proposal skripsi, mendengar tangisan bayi yang samar-samar terdengar.
"Mba, kalo anaknya nangis tolong diemin dong, lagipula ngapain sih malam-malam begini nugas diluar sambil bawa bayi," tegur seorang laki-laki yang duduk tidak jauh darinya, sepertinya laki-laki itu juga mahasiswa kampus, dilihat dari laptop didepannya dan penampilannya yang terlihat seperti penghuni abadi kampus.
"Mohon maaf ya itu bukan anak saya, lagipula orang gila mana yang bawa bayi dilingkungan kampus, di malam hari pula, disini saya lagi ngerjain skripsi, ngapain saya bawa bayi."
"Itu bayi kamu mungkin," tuduhnya kesal ke laki-laki itu.
"Kalo bukan anak mbaknya trus bayi siapa? Bayi mbak kunti? Aneh banget, udahlah mbak bawa pulang aja anaknya, kasihan tuh kedinginan."
***
Dua mahasiswa semester tua yang terpaksa harus tinggal satu atap dan mengurus bayi yang ditemukan tidak sengaja saat keduanya sama-sama sedang dipusingkan dengan skripsi.
Latar belakang keduanya yang sama-sama dari golongan menengah. Uang makan saja harus irit-irit, karena kebutuhan mahasiswa akhir itu sangat boros bos.
Lalu, bisakah mereka berdua mengurus bayi malang yang ditelantarkan secara sengaja oleh orang tua kandungnya? Dengan keadaan mereka yang carut-marut tapi juga penuh komedi dan hal yang tidak terduga.
Bagaimana keduanya menjalani hari-hari yang sudah berat menjadi lebih berat.
Cover by Pinterest dan AI
Copyright by Author Iana Lim