Altair Adhiyaksa adalah lelaki pendiam yang pernah percaya bahwa cinta bisa bertahan selamanya, bersama Daisha Azalea perempuan populer yang selalu dikelilingi cahaya dan mereka selalu dipandang sebagai pasangan sempurna. Dua tahun berjalan seperti dongeng, hingga takdir memutuskan untuk merobek halamannya. Sebuah kecelakaan merenggut kaki kanan Altair. Tubuhnya tak lagi utuh, dan cinta yang ia genggam pun ikut lepas. Daisha pergi, meninggalkan Altair bersama rasa malu, amarah yang tak terucap, dan keheningan yang menyesakkan, sekolah ia tinggalkan, dunia ia jauhi, seolah hidup tak lagi punya alasan untuk ditatap. Hingga Afsenna Rushea datang. Teman sekelasnya perempuan yang sering diremehkan karena nilai akademiknya, namun memiliki keberanian dan kepiawaian berbicara yang mampu membuat ruangan terdiam. Senna yang berkali-kali berdiri mewakili sekolah dalam lomba debat dan pidato, datang membawa sesuatu yang tak pernah Altair minta, namun sangat ia butuhkan kehadiran. Perlahan, di antara percakapan sederhana dan tatapan yang tulus, Altair menyadari satu kebenaran yang selama ini luput bahwa Senna telah mencintainya diam-diam sejak hari pertama mereka mengenakan seragam yang sama. Lalu takdir kembali bermain kejam. Dalam sebuah perjalanan, kecelakaan lain terjadi. Di antara gelap dan rasa sakit, Altair hanya mengingat satu hal hangatnya genggaman tangan Afsenna, seolah itu adalah satu-satunya alasan ia belum pergi. Saat ia membuka mata, Altair terbangun di kelas yang penuh tawa dan kebisingan, wajah-wajah muda berlalu lalang, terlalu hidup untuk disebut mimpi. Hingga pandangannya jatuh pada bangku belakang seorang perempuan dengan earphone bersandar pada bantal leher, tenggelam dalam dunianya sendiri. Waktu seakan berputar kembali. Apakah ini kesempatan kedua? atau hanya cara lain takdir untuk menyakitinya sekali lagi?
Más detalles