Vyora dan Zergan, dua jiwa yang dipertemukan takdir dalam pusaran kehidupan yang penuh warna. Pertemuan mereka bagai melodi indah yang mengalun, menyatukan hati dalam harmoni cinta yang tulus. Di antara senyum dan tatapan, terjalin benang-benang kasih yang semakin erat, mengukir janji setia di relung jiwa. Namun, badai kehidupan tak dapat dihindari, menguji keteguhan cinta mereka.
Takdir berkata lain, menghadapkan mereka pada persimpangan jalan yang sulit. Zergan dijodohkan dengan Raisya, wanita pendidikan pilihan keluarganya, sementara Vyora bertemu dengan Leon, pria tampan dingin yang menawarkan cinta tanpa syarat. Di tengah tekanan dan harapan orang-orang terdekat, Vyora dan zergan dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan hati: mengikuti kata hati atau mengalah pada takdir.
Dengan berat hati, mereka memilih jalan yang berbeda, berpisah demi kebahagiaan orang lain. Zerga menjalani kehidupan sebagai suaminya Raisya, berusaha menepis bayang-bayang Vyora yang selalu menghantuinya.Zergan
dengan luka di hati, mencoba membangun kembali hidupnya bersama Raisya, mencari pelipur lara dalam senyum dan kasih sayangnya.
Waktu berlalu, namun kenangan tentang cinta pertama tak pernah pudar. Pertemuan kembali yang tak terduga membangkitkan kembali bara cinta yang lama terpendam.Zergan dan kiren menyadari bahwa hati mereka masih terikat satu sama lain, meskipun telah terpisah oleh waktu dan jarak. Kini, mereka dihadapkan pada pilihan yang lebih sulit: mengkhianati pasangan masing-masing atau membiarkan cinta mereka tetap menjadi mimpi yang tak terwujud dan pilihan yang menghantui. Tentang bagaimana cinta sejati dapat bertahan dalam ujian waktu, namun tidak selalu berakhir bahagia. Tentang pengorbanan, penyesalan, dan penerimaan. Tentang bagaimana kita belajar untuk menghargai apa yang kita miliki, meskipun hati kita masih merindukan sesuatu yang lain.
NO PLAYGIAT🙅❌🚫🚫🚫🚫
DiLARANG COPY
Prolog
"Gila, sadis banget si Xavier."
"Aluna juga tolol banget-udah tahu Canva nggak suka sama dia, masih juga ngejar-ngejar."
Zena menatap layar ponselnya dengan ekspresi campur aduk: marah, jijik, dan frustrasi.
Baru saja dia menamatkan novel Forever Mine, dan akhir ceritanya benar-benar bikin naik darah.
"Udah gitu, Aluna matinya tragis banget. Disiksa di ruang rahasia Xavier cuma karena dia berani bully Sofia? Gila, nih cowok psikopat."
Zena mematikan layar. Melempar ponsel ke kasur.
"Udah ah, mending gue tidur aja. Capek."
Tapi dia tak tahu, malam itu bukan malam biasa.
Saat membuka mata, semuanya berubah.
Lampu putih. Aroma antiseptik. Dingin.
Seseorang menggenggam tangannya.
"Aluna sayang... akhirnya kamu sadar juga," ucap seorang wanita lembut, penuh haru.
Zena terdiam. Matanya mengerjap bingung.
"Maaf, Tante... siapa Aluna? Nama saya Zena."
Wajah wanita itu langsung pucat.
"Luna, kamu jangan bercanda. Mama panggil dokter dulu ya, sayang..."
Zena mematung. Jantungnya mulai berpacu tak karuan.
Luna?
Aluna... Atmajaya?
"Nggak... ini nggak mungkin."
Beberapa jam kemudian, dua cewek datang menjenguknya.
"Luna, gue yakin ini ulah Xavier!"
"Lo baru aja nyiram bakso ke Sofia kemarin, kan?" ucap Rebecca panik.
Zena hanya bisa diam. Matanya kosong.
"Sial... gue masuk ke dunia Forever Mine."
"Dan lebih parahnya... gue jadi Aluna. Cewek antagonis yang bakal mati mengenaskan di tangan Xavier ."
Tapi cerita tak berhenti di sana.
Karena dalam dunia ini, satu perubahan kecil bisa mengubah takdir.
Dan siapa sangka...
Alih-alih ingin membunuh, Xavier justru mulai terobsesi...
Pada Aluna yang kini bukan lagi Aluna duluh.