
Seorang penenun takdir dalam benang-benang cahaya membingkai sebuah konstelasi keabadian hanya untuk satu nama. Dari singgasana kesunyiannya, ia ciptakan sebuah semesta tanpa cela yang berdenyut dalam ritme hatinya. Namun, takdir adalah anomali yang tak bisa diprediksi. Dengan satu hembusan kata, semestanya yang terlipat rapi itu kembali menjadi singularitas yang menelan seluruh cahayanya sendiri. Maka ia pun menjadi pemburu keheningan. Melarikan diri dari penjara cermin yang memantulkan kehampaan. Pencerahan membawanya mendaki puncak lara, menuju sebuah titik di mana langit terasa begitu dekat. Pada kala gema dari masa lalunya yang cemerlang datang kembali untuk menagih ruang, ia tak lagi gemetar. Sebab pilihannya kini bukanlah antara kilau layar atau teduh pepohonan. Pilihannya adalah antara tetap menjadi hantu dalam mesin, atau membiarkan jiwanya ditumbuhi oleh tanah, berakar pada realita, dan akhirnya, mekar dalam keheningan abadi yang telah ia temukan.All Rights Reserved
1 part