Aku, Aku, dan Jungkat-jungkit

Aku, Aku, dan Jungkat-jungkit

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Tue, Aug 26, 2025
WpInfo
Fiction
Fantasy
Taman yang sama, suasana yang sama, jungkat-jungkit yang sama. Aku dibawa ke tempat dan waktu yang tidak asing bagiku, seolah aku diberi kesempatan oleh alam untuk mengubah arah nasibku. Meski di saat yang bersamaan aku tahu, alam bisa jadi tidak mengizinkan seseorang mengubah takdir yang telah dituliskan untuknya. . . . (Sumber foto: https://unsplash.com/photos/orange-and-white-metal-frame-cdZROYxsPt8?utm_content=creditShareLink&utm_medium=referral&utm_source=unsplash)
All Rights Reserved
#380
death
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7
  • Rumah Untuk Sang Tiran
  • The Unwritten Lady
  • Sin of The Villainess
  • AS : The Side Character's Rebirth
  • A Family of Villains
  • I Became the Villain's Nursemaid
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • Hanya Ingin Menjalani Hidup Santai dan Menunggu Kematian,
  • Aveline Beyond Her Fate

Enam kali mati dibunuh tepat di usia 22 tahun. Di kehidupan ketujuh, Ravenna menolak menjadi mangsa. Sebagai seorang mantan pendidik, Ravenna tahu cara terbaik menghukum orang bodoh bukanlah dengan air mata, melainkan dengan merampas apa yang paling mereka hargai. Maka, ia membatalkan pertunangannya dengan Putra Mahkota secara elegan, mengosongkan brankas ayahnya, dan menyerahkan diri kepada pria paling berbahaya di benua itu-Grand Duke Alaric von Blackwood, sang Monster Utara. Tawarannya sangat sederhana: "Jadikan aku istri kontrak selama lima tahun. Aku akan mendidik dua anakmu dan menjadi perisai politik dari hukum Istana. Setelah anak-anakmu aman, ceraikan aku dengan pesangon emas." Bagi Ravenna, ini hanyalah transaksi bisnis. Ia hanya ingin selamat dari maut dan pensiun dengan tenang. Namun, logika dan rencananya gagal meramalkan satu hal... Dua anak tiri yang konon 'monster' itu kini menangis memeluk kakinya, enggan dilepaskan. Sementara sang Grand Duke yang terkenal berhati beku? Pria itu menatap Ravenna dengan sorot posesif yang menggelapkan akal sehat. "Kau yang memulai permainan ini, Istriku. Jangan harap aku akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines