Nama adalah doa.
Setidaknya begitulah kata orang-orang. Tapi bagi sebagian orang, nama hanyalah beban.
Dharmadyaksa Kasogatan-sebuah nama panjang yang lahir dari sejarah Majapahit, kini menjadi milik seorang remaja lelaki. Anak itu dipanggil Aksa. Lelaki dingin, jarang bicara, penuh misteri. Dia benci pada namanya, bukan karena ejekan orang lain, bukan pula karena bunyinya jelek. Dia benci karena namanya tak pernah benar-benar mencerminkan siapa dirinya. Ia seorang muslim, tapi menyandang nama yang berakar dari agama lain. Baginya, itu sebuah ironi.
Sementara itu, ada nama lain yang tak kalah rumit.
Soraana Appichata-terlalu asing di telinga, terlalu berat di lidah. Dipanggil Sora, anak yang dulu ceria, penuh senyum, penuh cahaya. Tapi semua berubah sejak ibunya pergi meninggalkan dunia. Kehilangan itu membuatnya runtuh. Ia menutup diri, menjadi sosok yang dingin dan pendiam.
Kedua nama ini, Aksa dan Sora, akhirnya bertemu. Dua orang berbeda, namun punya kesamaan: mereka sama-sama tersesat di dalam dirinya sendiri. Takdir mempertemukan mereka, namun takdir pula yang akan merobek kenyataan dengan sebuah rahasia besar.
"Segala miliku yang kucinta dan kusenangi wajar berubah, wajar terpisah dari ku"
All Rights Reserved