Mama Untuk Ayya

Mama Untuk Ayya

  • WpView
    Reads 3,623
  • WpVote
    Votes 123
  • WpPart
    Parts 34
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 11, 2026
"Pah, cari mama baru, yuk!" "Pah, itu ada cewek cantik, mau jadiin mama buat Ayya, gak?" "Pah, kayaknya tante itu baik. Papazi mau gak?" "Tadi temen Ayya ke sekolah pada ditemenin mamanya, Ayya kapan punya mama, pah?" "Papah, temen Ayya suka dibekelin makan masakan mamanya. Ayya kapan dibekelin sama mama, pah?" "Masakan seorang mama itu seenak apa sih, pah? Kok temen-temen Ayya sesuka itu sama masakan mama mereka? Ayya jadi mau coba." Zio menutup kedua telinganya dengan bantal selalu ketika Ayya sudah kembali bertanya mengenai seorang mama padanya. Jujur, Zio sama sekali tidak kepikiran untuk menikah lagi setelah merasa gagal di pernikahan sebelumnya. "Pah! Jangan pura-pura gak denger, Ayya lagi nanya loh!" "Apalagi, Ay? Papazi kan udah bilang mamanya gak nemu." "Papazi bohong! Papazi emang gak niat cari mama baru!" tuduhnya. Zio memijat pelipisnya kuat. Rasa pening akibat pekerjaan saja sudah membuat otaknya berantakan ditambah kemauan Ayya yang begitu bertolak belakang dengan dirinya yang ingin sendiri. "Kalo gak dapet-dapet harus gimana?" "Yaudah biar Ayya yang cariin!" Zio langsung menoleh pada anaknya. Bahaya jika Ayya sudah berkata begitu, bisa-bisa seperti dulu. Ayya pernah diizinkan Zio untuk mencari mama baru sendirian karena ia sudah capek dengan ocehan anak itu. Tapi tanpa diduga, Ayya bertanya kepada setiap orang yang kenal dengannya apakah mau menjadi mamanya atau tidak. Zio sudah dibuat malu oleh anaknya sendiri. "Gak usah! Nanti biar papazi yang nyari sendiri!" sangkal Zio. "Bohong! Papazi gak pernah nyari mama baru" "Kali ini papazi janji bakal beneran nyari, tapi Ayya jangan ikut-ikutan nyari!" peringatnya. "Beneran?" "Janji!" "Okey! Tapi kalau papazi nyarinya lama, Ayya akan tetap bantuin!" kekeh Ayya. Zio menepuk dahinya lelah. Happy Reading temen-temen sisie
All Rights Reserved
#92
ibusambung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines