Pagi selalu datang dengan cara yang sama bagi Ayaka. Bukan suara riuh, bukan juga sapaan hangat dari siapa pun. Hanya derap langkahnya sendiri yang terdengar saat ia menuruni tangga, mengambil sarapan sekadarnya, lalu berangkat menuju sekolah.
Ayaka terbiasa berjalan sendirian. Tidak ada teman seperjalanan, tidak ada percakapan ringan di trotoar, bahkan sekadar lambaian pun jarang ia terima. Baginya, semua itu bukan sesuatu yang perlu dicari. Ia merasa lebih tenang ketika tidak ada siapa pun yang menempel atau mengusiknya.
Sekolah baginya hanyalah tempat yang sama setiap hari. Bangunan dengan dinding pucat, lorong panjang berisi suara tawa dan obrolan yang tak pernah melibatkan dirinya. Tidak ada yang benar-benar berubah, kecuali waktu.
Setiap pagi ia akan masuk lebih dulu ke kelas. Kursinya selalu di pojok, dekat jendela. Posisi itu memberi jarak dari orang lain, dan ia menyukainya. Dari sana, ia bisa menatap keluar tanpa harus peduli dengan apa pun yang terjadi di dalam.
Buku pelajaran terletak rapi di mejanya, meski jarang benar-benar disentuh sebelum pelajaran dimulai. Ia hanya duduk, diam, membiarkan pikirannya melayang entah ke mana. Kadang menatap halaman kosong buku catatan, kadang memperhatikan pohon di luar jendela yang bergoyang oleh angin.
Ayaka tidak membutuhkan percakapan untuk mengisi waktu. Sunyi adalah hal yang paling ia pahami, dan ia menjaganya seolah itu bagian dari dirinya sendiri.
Hingga bel masuk berbunyi, dan suara langkah-langkah mulai memenuhi ruangan, ia tetap sama. Duduk tenang, seakan tidak ada yang bisa mengusik ruang yang telah ia bangun di sekeliling dirinya.
Yang tidak ia tahu, rutinitas itu akan segera berubah.
***
Cover by pin
Todos los derechos reservados