XAVZ : Killing semester

XAVZ : Killing semester

  • WpView
    Reads 134
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing34m
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 2, 2025
SMA XAVZ awalnya sekolah biasa. Sampai satu hari, *satu murid dari XII IPS ditemukan meninggal* di ruang komputer lama. Awalnya dikira kecelakaan... tapi Areksa Mahendra, anak IPA yang terkenal kalem tapi pinter banget, sadar ada yang aneh. Bersama teman-teman sekelasnya, Keandra, Kafka, dan tiga cewek IPA: Nebula, Kaena, sama Nayera & Areksa mulai nyari tau sendiri. Tapi makin dicari, makin banyak keanehan yang mereka temukan: * CCTV sekolah sebagian rusak, dan rekamannya dimanipulasi. * Korban meninggalkan catatan terakhir yang nggak bisa dijelaskan. * Guru BK tiba-tiba ngilang. * Ada sesuatu yang tersembunyi di antara dua kelas: *XII IPA* dan *XII IPS* Sementara geng *anak-anak IPS* juga gak tinggal diam. Raefan, Azzura, Reine, dan Giselle mulai nyari tahu sendiri. Gak semua anak IPS percaya Areksa dll. malah banyak yang nuduh mereka. Areksa makin bingung: *Siapa yang bisa dipercaya? Siapa yang bohong? Siapa yang cuma acting baik?* Dan di tengah semua itu, Areksa mulai ngerasa... mungkin bukan siapa pelakunya yang penting tapi kenapa semua orang tiba-tiba berubah. Di sekolah ini... semua orang bisa jadi tersangka. Bahkan sahabat sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • Nyangga
  • My Best Mama
  • BANDOENG DIKALA MALAM [ON GOING]
  • Darah Dalam Diam
  • Assalamualaikum Ustazah, KAHWINI SUAMIKU.
  • AKU PENCIPTA URBAN LAGEND

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines