Mereka adalah dua jiwa yang berjalan berdampingan, menyebut kedekatan sebagai pertemanan agar hati tidak perlu menjelaskan apa-apa.
Padahal, di sela tawa yang dibagi, ada perasaan yang tumbuh diam-diam, dan menunggu untuk dikenali.
Waktu mempermainkan mereka dengan lembut.
Memberi hari-hari panjang untuk saling mengenal,
namun terlalu singkat untuk keberanian.
Mereka percaya, esok selalu ada, bahwa perasaan bisa ditunda tanpa kehilangan apa pun.
Ternyata, tidak.
Kepergian itu hadir seperti senja, tak berisik, tak meminta izin, hanya perlahan menghapus cahaya yang selama ini dianggap akan tetap tinggal.
Yang tertinggal belajar mencintai dalam sunyi, mengucapkan kata-kata yang tak lagi punya tujuan, dan merawat kenangan sebagai satu-satunya cara bertahan.
Cinta yang akhirnya diakui, tak menemukan tempat pulang.
Mereka bukan tak saling mencintai, tapi mereka hanya terlalu lama bersembunyi di balik kata teman, hingga saat hati siap melangkah, waktu telah lebih dulu pergi membawa salah satu dari mereka.
Dan sejak hari itu, cinta selalu terasa seperti sesuatu
yang datang terlalu terlambat untuk diselamatkan.
𝐏𝐄𝐑𝐈𝐍𝐆𝐊𝐀𝐓!
# 1 - terlambat
# 3 - perasaan
# 7 - seakeen
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang