We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Kita yang Diam (Haechan)

Kita yang Diam (Haechan)

  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 2, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Gisela tak pernah menyangka, sebotol susu yang ia letakkan di meja kosong akan mempertemukannya dengan Satrio, laki-laki pendiam yang diam-diam menyimpan luka. Siang hari mereka asing, malam hari mereka dekat lewat chat, saling berbagi tawa dan rahasia kecil. Namun ketika kenyataan hidup Satrio terungkap tentang keluarganya, kesulitan ekonomi, dan rasa tak layak yang menghantuinya hubungan mereka diuji. Gisela berusaha menjadi cahaya dalam hidup Satrio, tapi perpisahan tak bisa dihindari. Menjelang keberangkatannya untuk pertukaran pelajar, mereka bertemu untuk terakhir kalinya. Dalam pelukan dan ciuman singkat, cinta mereka menemukan bentuk paling tulusnya: nyata, indah, tapi tak bisa bersama.
All Rights Reserved
#12
ricuh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines