Auxilia Camera

Auxilia Camera

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 23, 2025
Saat itu ia hanya duduk menikmati pemandangan sungai yang ada di desanya, sembari memotret setiap momen yang menurutnya indah, gadis itu selalu tersenyum melihat semua hasil fotonya, cukup lama ia memandangi gambar yang ia ambil, setelahnya ia pun beranjak dan berjalan ditepi sungai, matanya hanya fokus pada kameranya, ia tak melihat ke arah mana dirinya berjalan. Hingga akhirnya kakinya terpeleset, kameranya terlempar dan dirinya jatuh ke sungai. meski menyukai pemandangan di sungai, gadis itu belum bisa berenang, ia berteriak minta tolong. "to-long..., to-long..." teriak gadis itu berulang-ulang kali. Dari kejauhan seseorang mendengar teriakan gadis itu, dan segera berlari untuk menyelamatkan gadis itu. Setelah gadis itu ia angkat ke tepi sungai, gadis itu pingsan mungkin karena terlalu lama didalam air pikir orang itu. Orang itu menatap lekat wajah gadis itu, berharap gadis itu segera sadar dan ia bisa pergi dari tempat itu. Namun belum juga sadar tiba-tiba seorang yang lain datang, dan mendorong orang yang telah menyelamatkan gadis itu. "sedang apa kau?, kenapa kau mendorongku?" tanya orang itu. "sebaiknya kau cepat pergi dari sini, jika tidak orang-orang akan menyalahkanmu" jawab orang yang baru datang. "heii, tapi aku hanya menolongnya, setidaknya biarkan dia sadar dulu" "cepat pergi!, orang tuanya akan datang sebentar lagi, dan kau pasti dimarahi oleh mereka" "kenapa?, aku hanya menolongnya, bukan aku yang mendorongnya, lalu untuk apa orang tuanya memarahiku?" "karena ada yang melihatmu dan mengatakan bahwa kau yang mendorongnya" "siapa?" "aku juga tidak tahu, tapi lebih baik kau segera pergi dari sini!" ujar orang baru itu. Kemudian orang yang menyelamatkan gadis itu pun pergi menjauh dan tak lama kemudian benar saja orang tua gadis itu pun tiba dan segera membawa gadis itu pergi dari tempat itu. Namun tanpa di sadari, si penyelamat membawa kamera gadis itu yang tadi terlempar saat ia terpeleset.
All Rights Reserved
#2
polaroid
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines