Arah Kita

Arah Kita

  • WpView
    Reads 557
  • WpVote
    Votes 98
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 21, 2025
Awalnya cuma rapat panitia ulang tahun Fakultas Ilmu Komunikasi. Andri pikir itu cuma event biasa, tapi ternyata dari sanalah hidupnya berubah-karena dia ketemu Nadia. Mereka makin sering bareng, dari rapat sampai pulang malam bareng, dan tiba-tiba aja... dekat. Sampai akhirnya Andri nekat jujur soal perasaannya. Siapa sangka, Nadia nerima. Tapi ternyata nggak sesimpel itu. Nadia masih kepikiran sama masa lalu-mantan yang sekarang kuliah di Bandung, tapi tetap hadir di pikirannya. Kedekatan Andri dan Nadia jadi diuji, apalagi saat mantan itu kembali muncul. Andri harus belajar sabar, sementara Nadia belajar untuk benar-benar memilih. Antara rasa lama yang belum selesai, atau kenyamanan baru yang nggak bisa dia bohongi. Arah Kita adalah cerita tentang cinta pertama, pilihan yang bikin galau, dan ketulusan yang akhirnya bikin hati sadar: kadang, yang kita cari ada tepat di depan mata.
All Rights Reserved
#146
facebook
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa
  • Salah Status
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines