Tidak semua pahlawan memakai jubah, sebagian hanya memakai pakaian sederhana, memegang skripsi lusuh, air mata yang jatuh tengah malam, dan senyum yang selalu dipaksakan agar keluarga tidak khawatir.
Tapi, ini bukan kisah seorang pahlawan. Ini juga bukan kisah seseorang yang ingin terus menjadi nomor satu. Ini tentang perjalanan seseorang yang jatuh berulang kali tapi terus memilih bangkit, yang tidak memilih menyerah walaupun berjalan pelan. Yang selalu percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah terlambat menjawab segala doa yang melangit.
Isvara adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang terbiasa kuat, hingga akhirnya lupa rasanya dimengerti. Di usia ketika teman-temannya sudah melangkah jauh, ia masih tertinggal-terseok oleh ekspektasi, perbandingan, dan kata-kata yang tak sengaja melukai hati.
Semua orang hanya bilang, "Kapan kamu lulus?" tapi tidak ada yang bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?"
Dalam perjalanan yang terasa lambat itu, ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dibanding gelar, yaitu keberanian untuk memaafkan, kekuatan untuk terus berjalan, dan keyakinan bahwa lambat bukan berarti gagal.
Dan Tuhan menjawab doanya melalui cara yang sederhana, yang tidak pernah ia sangka : sahabat yang lucu dan kocak, dosen muda yang diam-diam peduli, dan pelukan keluarga yang tak pernah benar-benar pergi.
Ini bukan kisah tentang siapa yang tercepat sampai, karena hidup juga bukan perlombaan.
Ini adalah kisah tentang bertahan... lalu tumbuh seiring perjalanan waktu.
All Rights Reserved