Unseen Battles

Unseen Battles

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 12, 2025
"ILANG MULU NGENTOD" dia tidak berniat menjawab ucapan perempuan didepan nya, perempuan itu yang tidak direspon pun menjadi kesal dan langsung berucap. "Lu kenapa?" tanya nya. "Mau lu gimana si?" timpal perempuan yang didepan nya. "Apa si?". "Lu gamau temenan lagi?" ujar nya yang sedikit kesal . "Gak" belum sempat teman nya membalas ucapan nya, dia langsung berbicara. "Repot perasaan gua dan gua juga cape, batesin jarak diantara kita" sebenernya dia tidak tega mengucapankan nya namun tidak ada pilihan lagi. "Oke terserah aja, kalau kaya gitu mending gausah temenan" dia menatap mata perempuan didepan nya, dan melihat perempuan dengan mata yang sudah berkaca kaca pun dia tidak tega. "Oke" ucapnya yang langsung pergi meninggalkan dia, tidak terasa air mata yang dia bendung tak bisa ditahan lagi, dan akhirnya air matanya mengalir deras di pipi nya.
All Rights Reserved
#681
wlw
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • EVANESCENT
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines