RENGKUH

RENGKUH

  • WpView
    Reads 6,123
  • WpVote
    Votes 540
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 14, 2026
Hari wisuda yang seharusnya penuh senyum, berubah jadi awal dari mimpi buruk Zaka. Trauma, dan kehilangan membuatnya hancur. Sementara Aisyah, gadis modern yang masih mencari jati diri, justru ditarik pulang ke akar tradisi pesantren. Takdir mempertemukan mereka lewat perjodohan. Tapi, benarkah pertemuan itu jalan menuju cinta? Atau ujian baru yang akan mengguncang hati dan keyakinan mereka? *** KARENA CERITA SEBELUMNYA HANYA MENEMUI JALAN BUNTU, AKHIRNYA SAYA KEMBALI DENGAN CERITA YANG BARU JANGAN LUPA VOTE YA!!! UNTUK KELANJUTAN CERITANYA 😇🙌🏻 HAPPY READING TEMAN-TEMANNN! ☺🤍
All Rights Reserved
#24
disabilitas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • HUJAN BERCERITA
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain's Mother
  • Between Us [END]
  • Paths - 2026
  • || Arranged Marriage ||
  • Jodohku sang Mafia tak berdaya
  • RAKSAZKA : the good wife behind the bad girl [END]
  • Muhammad Abidzar Assegaf [ENDING}
  • Possessive and Jealous Disabled Husband
  • De Andere Weg (END)
  • Di Balik Napasnya
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • KETIKA SAYAPMU PATAH

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines