Summary:
Kau datang dengan bulu seputih awan,
Matamu bening, wajahmu penuh kasihan.
Kau embuskan napas hangat, kau tawarkan pundak,
Meyakinkan aku, "Di sini kau 'kan aman."
Aku, si bodoh, yang merindukan kawan sejati,
Membuka gerbang hatiku tanpa curiga sedikit pun.
Kuceritakan semua rahasiaku, segala mimpi,
Kuserahkan punggungku tanpa ragu-ragu.
Kita tertawa bersama di padang ilalang,
Menyanyikan lagu tentang setia sampai petang.
Aku tak pernah sadar, di balik tatapanmu yang tenang,
Ada taring tersembunyi, yang menanti saat yang garang.
Lalu di puncak percaya, di hening yang paling senyap,
Bulu dombamu tanggal, menampakkan wujud yang gelap.
Bukan kawan yang kulihat, tapi serigala yang siap menerkam,
Dengan mata yang sama, namun kini penuh dendam.
Ternyata kehangatanmu adalah cara mengukur mangsa,
Kelembutanmu hanyalah siasat sang pemangsa.
Dan kini aku tahu, luka paling dalam bukanlah dari taringnya,
Melainkan dari ingatan, bahwa aku pernah memeluknya.
---
Kukenakan jubah bulu domba ini,
Bukan untuk menyangkal takdirku, percayalah.
Ini seragamku, topeng paling murni,
Untuk menyelinap ke duniamu yang teramat lugu dan ramah.
Aku belajar bahasamu, si lemah lembut,
Meniru embikmu, memalsukan tatapan haru.
Kau serahkan semua rahasiamu tanpa kau sebut,
Hanya karena aku terdengar seperti kawan baru.
Jangan salahkan taringku yang tajam terasah,
Salahkan padang rumput yang membuatmu terlena.
Duniaku tak kenal konsep "amanah",
Hanya ada pemangsa, dan ada yang jadi mangsanya.
Di puncak percayamu, saat kau paling tak berdaya,
Aku biarkan jubah ini jatuh ke tanah.
Kejutan di matamu adalah musik terindah,
Saat kau sadar dombamu adalah serigala yang gagah.
Tak ada sesal.
Perutku kenyang, misiku menang.
Ini bukan pengkhianatan, ini hukum alam yang garang.
Jadi tidurlah, domba kecil.
Pelajaran ini mahal dan lantang:
Di dunia ini, lapar akan selalu memangsa yang bimbang.
All Rights Reserved