Trapped In Fear

Trapped In Fear

  • WpView
    Membaca 14,322
  • WpVote
    Vote 1,289
  • WpPart
    Bab 11
WpMetadataReadDewasaBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Jun 14, 2026
"Selama kita saling mencintai, meski hanya ada kita berdua di dunia ini... itu sudah cukup, kan?" -Shaynala Khabya Dhiasa Aksasendra "Maaf jika pada akhirnya aku menyakitimu... sebab ada hal-hal yang bahkan tidak mampu dikendalikan oleh diriku sendiri." -Alkantara Nakshatra Pratama
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • Almost Married (END)
  • The Villain Mother

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan