Kembali Ke Masa Lu Menjadi Pemilik Leganes
(Dika Wijaya, seorang pekerja kantoran berusia 33 tahun dari Indonesia, menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Sebagai seorang yatim piatu sejak usia 26 tahun, pelariannya dari rutinitas adalah hasratnya pada sepak bola. Ia adalah penggemar berat Chelsea FC sejak era tahun 2000-an dan seorang pemain game Football Manager yang ulung, di mana ia mengasah intuisinya dalam taktik dan manajemen klub.
Sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya, namun takdir memberinya kesempatan kedua yang tak terduga. Ia terbangun di tahun 1999 dalam tubuh seorang pemuda Spanyol bernama Adrian Valerón. Berbekal pengetahuan lengkap tentang dunia sepak bola dua dekade ke depan, Adrian melihat peluang sekali seumur hidup.
Dengan keyakinan penuh, ia mempertaruhkan semua yang ia bisa di berbagai bursa taruhan, menggunakan pengetahuannya tentang hasil-hasil pertandingan yang "pasti". Ia berhasil mengumpulkan kekayaan luar biasa sebesar £220 juta. Dengan bijak, Adrian membagi kekayaannya: separuh ia investasikan di perusahaan-perusahaan yang ia tahu akan menjadi raksasa di masa depan seperti Apple, untuk menjamin keamanan finansial jangka panjang. Separuh lainnya ia siapkan untuk mewujudkan impian terbesarnya: menjalankan klub sepak bola.
Meskipun hatinya milik Chelsea, ia tahu bahwa pada tahun 1999 klub London itu sudah stabil. Ia membutuhkan kanvas kosong. Pilihannya jatuh pada CD Leganés, sebuah klub kecil di pinggiran Madrid yang tidak memiliki apa-apa selain potensi. Dengan sisa uangnya, ia membeli klub tersebut dan memulai "Proyek Leganés"-sebuah misi untuk mengubah klub kecil menjadi kekuatan Eropa dengan menggunakan metode Football Manager di dunia nyata memadukannya dengan strategi kepelatihan yang inovatif, dan membangun fondasi klub dari nol, mulai dari fasilitas latihan, akademi, hingga stadion baru.
Cerita ini adalah perjalanan Adrian Valerón dalam menantang tatanan sepak bola Eropa, membuktikan bahwa data, visi, dan keberanian bisa mengalahkan uang dan tradisi lama.