We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Adiksi

Adiksi

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Jan 25, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
First Love
Slice of Life
Social Themes
Pagi itu kau dikejutkan akan keberadaan tubuh di kamar kekasihmu, darahnya menetes dari luka tusuk, pisau masih tertancap. Kekasihmu membersihkan jemarinya di wastafel, seolah noda merah itu hanyalah sirup yang mudah dibersihkan. Kau tahu ini salah. Kau tahu ia telah melakukannya berkali-kali. Namun, ketika lengannya melingkar di tubuhmu dan suaranya berbisik ingin sarapan buatanmu, kau memilih untuk menutup mata. Cintanya candu, racunnya lebih manis daripada kesunyian tanpa dirinya yang mencekik naluri hidupmu dulu. Cerpen ini diikutsertakan pada Lomba Penulisan Cerpen Tingkat Internasional Piala H.B. Jassin 2025 Lukisan karya Pamella C. Newell berjudul Red Rose I ©2025
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Love For Rent (Antagonist Love Story)
  • My Celestia || Kabur dari Perjodohan, Jatuh ke Pelukan Konglomerat [21+]
  • Silent Traces by the Sea
  • ONESHOOT 21+
  • Clause of Us
  • Pregnant With The Protagonist's Child (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Círculo del Destino
  • GARWO KINASIH SANG DALANG

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines