-"ππ’π―π’π¨π ππ¦π©ππ«π€, ππ’π―π°ππ₯ππππ±ππ« π¦π±π² π±ππ¨π¨ππ« ππ’π―π«ππ₯ π²π°ππ¦. ππππ¦ πͺπ’π―π’π¨π π©π²ππ, π°ππ±π² ππ’π―π π¦π¨ππ« π¨π’π π¦π© π°ππ§π ππ¦π°π πͺπ’πͺπππ¨ππ― π§ππ«π§π¦ πΆππ«π€ π±π’π©ππ₯ πͺπ’π―π’π¨π ππ²ππ±."-
"Kalau gue tahu ujungnya begini, gue bakal satuin tim kita dari awal." Kim junkyu menatap foto usang di tangannya dengan derai air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia memajang foto usang itu di dinding tepat di atas meja properti yang dipenuhi oleh banyak bunga kering berserakan, sebelum akhirnya ia keluar dari ruang teater tersebut.
Treasure, sebuah nama yang merangkum persahabatan erat antara sepuluh remaja. Di balik tawa dan janji suci di bawah hangatnya api unggun, mereka tak menyadari bahwa takdir telah menyiapkan naskah yang jauh lebih pahit.
Saat sebuah tuduhan mencuat, ikatan kuat itu perlahan mulai retak. Percikan api drama panggung berubah menjadi bara yang membakar kepercayaan. Jeongwoo, satu-satunya yang berani membela kebenaran, harus terhenti karena takdir membuatnya mendekam di rumah sakit. Ia terbaring dengan alat penunjang hidup di seluruh tubuhnya, meninggalkan Junkyu seorang diri.
Kini, Junkyu menjadi sasaran kebencian. Ditinggalkan, dihina, dan dituduh, ia hanya bisa menjadi saksi bisu kehancuran persahabatan mereka. Namun, di balik senyum yang tak pernah pudar, ia menyimpan rahasia yang jauh lebih dalam.
Mampukah Junkyu menyatukan kembali kepingan kaca yang sudah pecah? Atau justru, rahasia itu akan menjadi alasan perpecahan yang sesungguhnya? Akankah mereka menemukan kembali cahaya di balik tirai yang telah runtuh? Atau justru, pementasan terakhir ini akan menjadi akhir dari segalanya?
All Rights Reserved