KILLSHOT [FORCEBOOK] ON GOING

KILLSHOT [FORCEBOOK] ON GOING

  • WpView
    Reads 918
  • WpVote
    Votes 154
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 5, 2026
"Aku membencimu." "Kau mengatakannya setiap kali kau selesai bercinta denganku." ---------------------- Billie membenci Javier. Bukan jenis benci yang sekadar "aku-tidak-suka-padamu". Bukan. Billie membenci pria itu dengan setiap serat dari keberadaannya. Kehadirannya saja sudah membuat Billie terganggu. Kebencian itu sudah ditanam turun temurun dari keluarganya. Dan dia tidak berencana merubah tradisi itu. Dia benci senyum sok tahunya dan komentar sarkastisnya. Dia benci cara Javier yang tak pernah berbicara sopan kepadanya. Dia angkuh dan menyebalkan, Billie membenci segala hal tentangnya. Dia tidak tahan akan fakta kalau mereka hidup di bumi yang sama. Akan tetapi, ada garis yang sangat tipis antara benci dan cinta. Dan Billie tidak sadar bahwa satu langkah kecil saja sudah cukup untuk menyeberanginya, dan setelah itu, tak akan ada jalan untuk kembali ke kehidupannya yang lama. FORCEBOOK in Alternatif Universe. Mafia x Mafia. Enemies to Lovers. 21+ Blood, violence, and obsession. Vulgar and explicit story.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BEFORE THE LAST LETTER
  • Kasih yang Terlambat
  • My Safe Zone
  • Nerdy Wife
  • BAD LIAR (PerthSaint) [END]
  • MEETING IN THE DARK
  • If We Had Met In The Right Time
  • Married With A Demon King
  • HARGA SEBUAH NAMA
  • The Witness

Before the Last Letter Satu huruf tergores di telapak tangan korban. Polisi menganggapnya kebetulan. Ketika seorang wanita ditemukan tewas di pinggir jalan Bangkok, Detektif Force Jiratchapong menduga itu hanyalah pembunuhan terencana yang dilakukan seseorang dengan dendam pribadi. Tidak ada saksi. Tidak ada DNA. Hanya bekas jeratan yang rapi - dan satu huruf dalam aksara Thai yang terukir di kulit korban. Sebelum Force sempat memahami maknanya, korban kedua ditemukan. Dengan pola yang sama. Dan huruf berikutnya. Penyelidikan yang awalnya tampak sederhana berubah menjadi permainan sunyi antara pembunuh yang sabar dan polisi yang mulai menyadari bahwa setiap kematian bukan sekadar kejahatan - melainkan bagian dari sesuatu yang sedang disusun. Sebuah nama. Sebuah pesan. Sebuah kebenaran yang semakin mendekat. Dan ketika huruf-huruf itu hampir lengkap, Force mulai bertanya pada dirinya sendiri- Apakah ia sedang memburu seorang pembunuh... atau sedang berjalan menuju huruf terakhir yang telah ditentukan untuknya? Sebelum huruf terakhir terungkap, tidak ada yang benar-benar aman.

More details
WpActionLinkContent Guidelines