Sepenggal Rindu

Sepenggal Rindu

  • WpView
    Reads 241
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 20, 2026
Rasa adalah anugerah, sekaligus ujian. Ia hidup dalam dada, berdenyut di antara harap dan takut. Kadang membuncah, kadang meredup, sering kali tak terbaca bahkan oleh pemiliknya sendiri. Aku pernah percaya rasa adalah segalanya. Aku berlari, mencintai, menangis, dan berharap hanya karena rasa. Tapi aku lupa, rasa bisa menyesatkan jika tak diarahkan kepada yang Maha Menata hati. Di satu senja, ketika langit membiaskan warna jingga yang ganjil, aku merasakan hampa yang tak bisa lagi kusebut luka. Seolah semua kebahagiaan semu yang kupeluk runtuh di bawah beratnya waktu. Saat itulah aku menyadari: sudah waktunya berhijrah, bukan hanya jasad, tetapi juga rasa. Aku ingin mengembalikan setiap rasa ini kepada pemiliknya yang hakiki. Aku ingin menata ulang cinta, harap, rindu, bahkan kecewa, agar semua berlabuh hanya pada-Nya. Karena sungguh, hati takkan pernah tenang bila terus menggantungkan rasa kepada sesama makhluk. Inilah perjalanan hijrahku, bukan sekadar berpindah langkah, tetapi berpindah rasa. Meninggalkan cinta yang keliru, menuju cinta yang tak lekang oleh waktu. Dan semoga di ujung perjalanan ini, hatiku menemukan rumahnya yang sebenar-benarnya: di bawah naungan ridha-Nya.
All Rights Reserved
#4
keren
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Imperfect Señorita
  • NINGRUM
  • Mr. CEO, Stop Being My Enemy! (END)
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Kesempatan Kedua Heraya
  • Beautiful Pain
  • Silent Traces by the Sea
  • HIS LILY HIS LIES
  • Almost Married (END)

"Temani Saya" 2 kata yang selalu terucap setiap 3 kali dalam seminggu dan selalu tetap seperti robot yang telah mendapatkan pemrograman. Tak ada cinta bagi Axel, dirinya hanya berlindung dalam kalimat "Saya hanya menyukai tubuhmu". "Kita fasih mendesah dalam gelap, tetapi bisu soal cinta dalam terang. Dan cemburu adalah satu-satunya bahasa jujur yang akhirnya berani kita ucapkan."

More details
WpActionLinkContent Guidelines