Dikala Senja 🌙
Senja selalu datang dengan cara yang sama-perlahan, menutup hari dengan semburat jingga yang menyala di langit. Tapi baginya, senja bukan sekadar peralihan waktu. Senja adalah jembatan menuju malam, saat bulan muncul dengan keindahan yang tak pernah gagal membuat matanya berbinar.
Dia... lelaki dengan jiwa nakal, sering terlihat acuh pada dunia, namun selalu luluh ketika menatap bulan. Baginya, bulan adalah rahasia. Cahaya yang tenang, namun setia. Diam, namun tetap menerangi. Aku sering melihatnya duduk sendirian, menatap langit, seolah berbicara dengan rembulan yang menggantung di atas sana.
Dan aku?
Aku hanya seorang perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, mencoba memahami senyum samar yang ia simpan setiap kali bulan mulai beranjak tinggi. Ada sesuatu pada dirinya-pada tatapannya yang seakan menyimpan luka, pada tawanya yang nakal namun rapuh, pada caranya merayakan senja dan memuja bulan-yang membuatku jatuh, tanpa pernah tahu bagaimana cara berhenti.
Mungkin, cintaku ini hanya akan menjadi bisikan yang terhempas angin senja.
Mungkin, aku hanyalah bayangan yang tak pernah ia lihat, sama seperti bintang kecil yang kalah oleh cahaya bulan.
Namun satu hal yang selalu aku tahu, setiap kali matahari tenggelam dan bulan naik perlahan-
di kala senja, hatiku selalu menemukannya.
Jennie Kim berdiri di balik tirai kaca kantornya yang megah, menatap Seoul dari lantai 31. Dari luar, ia tampak seperti wanita sempurna: desainer ternama, mandiri, elegan, dan selalu tampil tanpa cela. Namun tak ada yang tahu bahwa sebagian dari dirinya hilang lima belas tahun lalu-dan tak pernah kembali.
Putrinya. Lalisa.
Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya... tetapi hanya beberapa jam setelah kelahiran, Lisa menghilang dari ruang perawatan bayi. Kejadian itu hampir membuat Jennie kehilangan kewarasan.
Tapi ia juga sedang membangun karier dan reputasi. Media selalu menguntit. Jika kabar itu bocor, kariernya akan runtuh.
Atas desakan manajemen dan keluarganya, kasus itu ditutup rapat. Tidak ada polisi. Tidak ada pencarian besar. Semua bungkam.
Malam yang sama, rumah sakit menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang ibunya.
Dalam keputusasaan dan ketakutan, Jennie menerimanya dan membesarkannya sebagai putrinya sendiri.