Senja Tak Lagi Pulang
Ada yang pergi dengan kata-kata pun terkadang diam
Namun semua yang pergi selalu meninggalkan jejak
Entah di dada, di langit, atau di antara halaman buku yang tak sempat ditutup.
Senja Tak Lagi Pulang adalah antologi tentang kehilangan dalam banyak rupa:
tentang cinta yang berhenti di tengah kalimat, sahabat yang menghilang tanpa pamit, waktu yang tak bisa diulang, dan diri yang perlahan menjauh dari dirinya sendiri.
Di setiap kisah, senja menjadi saksi: warna jingga yang pernah hangat kini berubah menjadi lembayung yang dingin. Tapi justru dari sisa cahaya itulah, lahir pengertian baru bahwa kehilangan bukan sekadar ketiadaan, melainkan cara semesta mengajarkan kita untuk bertumbuh, untuk mengenali kedalaman hati sendiri.
Ini bukan sekadar kumpulan cerita duka, melainkan perjalanan menuju penerimaan. Bahwa yang tak kembali pun bisa tetap hidup di dalam ingatan, dan setiap luka, sekecil apa pun, akan selalu meninggalkan secercah cahaya.
Sebab terkadang, yang paling indah dari kehilangan adalah bagaimana kita belajar untuk tetap mencintai, meski tanpa memiliki.